By : Rina Susanti
Kalau aku memutuskan untuk memakai sepeda setiap hari, dari rumah sampai depan gerbang komplek yang jaraknya kurang lebih 2 kilometer, bukan karena ikutan-ikutan trend ‘bike to work.’ Terlebih karena ‘bike to kepepet’.
Bermula dari kepindahanku ke rumah baru – alhamdulillah – setelah berkali-kali pindah kontrakan. Senang sudah barang tentu, karena bagi kami, impian memiliki rumah sendiri adalah target besar. Pilihan kami jatuh pada komplek yang terletak di Bogor utara. Dari kantorku kurang lebih 15 km.
Karena ini komplek lama, maka cluster-cluster baru yang dibangun dan dipasarkan terletak jauh dari gerbang komplek yang langsung berhadapan dengan jalan protocol. Ini juga yang membuat saya sempat ragu dengan keputusan untuk membeli rumah di sini sampai akhirnya suami berhasil meyakinkan saya, bahwa pilihannya ini yang terbaik. Akhirnya, aku manut wae. Kini kuakui pilihannya memang tepat.
Satu hari sebelum kami pindahan, suami membeli sepeda bekas. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk alat operasional aku sehari-hari. Ke warung, bayar listrik dan pam, dan ke gerbang komplek setiap hari kerja. Maklum kami cuma punya satu kendaraan bermotor dan itu dipake suami kerja. Sampai di gerbang kompek, aku titipkan sepeda di kantor marketing lalu naik bis untuk sampai ke kantor. Untuk praktisnya tentu saja aku bisa naik ojek atau nyicil motor matic. Tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan karena krisis global berimbas juga pada keuangan kami seiring naiknya bunga kprku yang mencapai hampir 6%. Ini pelajaran bagi kami, untuk tidak tergiur dengan rayuan bunga kpr rendah karena saat terjadi kenaikan, naiknya tanpa ampun melebihi bank-bank lain. Btw, kembali ke soal sepeda. Sekali naik ojek tarifnya rp 5000 rupiah, pulang pergi rp 10000. kali jumlah hari kerja. Jumlah yang significant dibanding kalau aku naik sepeda dengan memberi uang parkir rp 2000/hari. Terpaksalah aku menggenjot sepeda saban pagi dan sore. Ya, terpaksa. Tapi itu pada mulanya.
Aku bilang terpaksa karena memang dipaksa suami. Padahal aku benar-benar tidak bisa naik sepeda. Waktu kecil saat belajar naik sepeda aku terjatuh tepat di bagian yang membuat aku kapok dan takut. Beranjak remaja, terbersit keinginan bisa sepeda tapi malu belajarnya karena sudah besar. Beranjak dewasa, ingin bisa motor. Tapi katanya, kalau ingin bisa motor harus bisa naik sepeda. Langsung nyaliku ciut. Lha, naik sepeda aja gak bisa gimana bisa motor? Ya udah dech ingin bisa mengendarai mobil aja. Tapi keinginan yang ini masalahnya, aku belum punya mobil…ha..ha…
Satu hari setelah pindahan ke rumah baru, aku langsung dipaksa belajar sepeda sama suami. Ya, dipaksa karena pada mulanya aku mengelak dengan berbagai alasan. Rumah belum bereslah, si kecil gak ada yang jagain, belum nyuci atau nanti dan nanti. Alasan dari hati terdalam sich takut jatuh dan malu sama satpam dan beberapa tetangga di blok sebelah. Untuknya di blokku baru aku sendiri yang rumahnya sudah di tempati.
Tanpa tendeng aling-aling suamiku langsung memberi target. Satu minggu harus bisa! Artinya minggu depan, saat aku kembali kerja (kami pindahan akhir tahun yang bertepatan dengan libur tahunan kantor suami) sudah pake sepeda.
Aku jatuh berkali-kali. Lembam di paha, betis, baret-baret di kaki dan lutut. Jadi teringat kata mamaku, katanya kalau sudah jatuh (saat belajar naik sepeda) pasti jadi bisa. Urat maluku pun putus. Aku sudah cuek dengan senyum-senyum satpam atau anak-anak kecil di komplek yang saban sore main sepeda dan berpas-pas an dengan ku yang tengah naik sepeda di dorong suami. Sementara si kecilku menjerit-jerit riang di stroller nya.
Hari pertama naik sepeda sampai gerbang komplek ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Situasi yang tak pernah terjangkau imajinasiku. Jalanan yang nanjak, seliweran kendaraan bermotor terutama ojek yang kencang dan suka nyalip seenaknya, klakson mobil yang bikin grogi, polisi tidur, anjing atau kucing yang seenaknya motong jalan. Untungnya semua keadaan itu hanya membuatku sempat jatuh. Karena kalau jatuh yang kebayang bukan sakitnya tapi malunya. Dan yang lebih memalukan, aku baru memperhatikan kalau sepeda second ku benar-benar jelek. Kedua pedalnya beda, catnya murahan, jarinya-jarinya terlihat sudah ringkih, ogleg, remnya berdecit, ban sepedanya udah licin, dan hampir saban hari kempes. Selidik punya selidik ternyata ban dalamnya harus diganti. Minggu-minggu pertama bersepeda membuat saya harus bolak-balik bengkel. Betulin kerusakan dan ganti ini-itu. Si pemilik bengkel menyarankan untuk ganti sepeda, tukar tambah. Dengan alasan saving dan tidak ada budget (kedua istilah itu aku pinjam dari istilah yang sering digunakan di kantorku), sampai sekarang aku masih bertahan dengan sepeda jadul ku. Tak terasa hampir genap sepuluh bulan rutinitas bersepeda ini telah kujalani dan aku benar-benar menikmatinya.
Hikmahnya, aku belajar melepas rasa malu dan gengsi yang tidak perlu. Aku mengendarai sepeda jelek dan satu-satu (dari kurang lebih7000 ribu kk yang menempati komplek ini) yang tiap pagi bersepeda sampai gerbang komplek. Tapi kini mulai ada beberapa anak sekolah yang juga mengendarai sepeda sampai gerbang komplek.
Terima kasih untuk suamiku yang sudah memaksa aku belajar sepeda.
